Learning Theory


Pendekatan Konstruktivisme
Zaman sudah semakin maju, begitupula dunia pendidikan. Teknik pembelajaran juga semakin berkembang sesuai dengan tingginya tingkat persaingan global. Teknik pembelajaran lama yang biasa disebut Teacher centered yang mengharuskan guru (pengajar) berperan aktif dan menjadi pusat utama dalam proses belajar mengajar sedikit demi sedikit ditinggalkan. Kini, siswa(pembelajar) ditekankan harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka dan mengembangkan gagasan-gagasan dalam mencapai sebuah konsep. Teknik belajar inilah yang disebut student centered. Salah satu penerapan student centered adalah pendekatan konstruktivisme.
Konstruktivisme adalah pendekatan pembelajaran yang merupakan bagian dari Learning Theory yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun atau dikonstruksi dalam pikiran manusia. Teori ini memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain. Konstruktivisme tercipta pada situasi sedemikian rupa sehingga menggiring anak mencapai konsep. Secara terminologis, konstruktivisme berasal dari kata  kontruksi yg berarti bersifat membangun. Dalam konteks filsafat pendidikan, konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Teori ini memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
Menurut Clark (2000) penerapan konstruksivisme di sekolah terbagi menjadi dua yaitu konstruktivisme kognitif (individu) yang dikemukakakan oleh Piaget dan konstruktivisme social yang berasal dari pemikiran Vigotsky.
Konstruktivisme Kognitif (Individu)
Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61). Konstuktivisme kognitif ini lebih menekankan pada kerja individu dalam mengkonstruksi pengetahuan matematika dan maknanya berdasar pada pengalaman siswa sendiri.
Konstruktivisme Sosial
Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut yaitu, adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya, membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap, mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri, dan lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Teori ini juga memiliki cirri-ciri yaitu, memberi kesempatan kepada siswa membina pengetahuan baru langsung ke dunia sebenarnya, mengembangkan ide yang diawali oleh siswa dan menggunakannya sebagai panduan dalam merancang pengajaran, menyokong pembelajaran secara koperatif, membentuk sikap dan karakter siswa, mengembangkan kajian bagaimana siswa belajar dan mengembangkan sesuatu ide, mengembangkan dan menerima usaha siswa dalam mengungkapkan ide, menimbulkan semangat siswa untuk bertanya dan berdialog dengan siswa maupun guru, dan mengembangkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.
Secara garis besar, prinsip-prinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar yaitu, pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar, murid aktif megkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah, guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancer, menghadapi masalah yang relevan dengan siswa, struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan, mencari dan menilai pendapat siswa, dan menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Semua teori pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan teori belajar konstruktivisme yaitu menuntut siswa untuk berfikir. Dalam proses membina pengetahuan baru, siswa berfikir untuk menyelesaikan masalah, mengolah ide dan membuat keputusan. Oleh kerana siswa terlibat secara langsung dalam mengolah dan mengonstruksi pengetahuan baru, mereka akan lebih paham atau mengerti dan mampu mengapliksikannya dalam semua situasi. Selain kelebihan, teori ini jg memiliki kelemahan, yaitu dikarenakan siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan miskonsepsi. Konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda, situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa, dan yang kebih penting lagi, dan meskipun guru hanya menjadi pemotivasi dan memediasi jalannya proses belajar, tetapi guru disamping memiliki kompetensi dibidang itu harus memiliki perilaku yang elegan dan arif sebagai spirit bagi anak sehingga dibutuhkan pengajaran yang sesungguhnya mengapresiasi nilai-nilai kemanusiaan.


Pendekatan Pembelajaran Problem Solving

Problem solving adalah suatu pendekatan matematika yang menuntut siswa (pembelajar) menemukan sendiri jalan keluar permasalahan dengan menggunakan segala keterampilan atau kemampuan yang dimilikinya dalam menyelesaikan permasalahan non rutin, menantang, dan tidak familiar. Problem solving juga dapat diartikan sebagai suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternative solusi dalam menyelesaikan permasalahan. Suatu pertanyaan (soal) akan menjadi masalah jika pertanyaan itu menunjukkan suatu tantangan (challenge) yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur rutin yang sudah diketahui oleh pelaku.
Strategi problem solving tidak hanya mampu mengubah gaya belajar anak dari sebagai pelajar yang pasif menjadi pelajar yang aktif dalam mengkonstruksi konsep mereka, tetapi juga, membuat pembelajaran matematika lebih berarti (more meaningful), masuk akal (make sense), menantang dan menyenangkan (challenge and fun), cocok buat siswa (relevant for students), dan memberikan cara berfikir yang fleksibel (thinking flexibility). Oleh karena itu,  problem solving matematika dapat dipandang sebagai suatu pendekatan yang penting untuk meningkatkan pemahaman matematika anak.
Good characters of the problem solving ada tiga yaitu:
1.       Menggunakan situasi (using situation)
Dalam problem solving biasanya  permasalahan tidak tersajikan dalam kalimat(istilah) matematika,melainkan diangkat dari permasalahan atau situasi dalam kehidupan nyata (real life situation). Contohnya:
Di suatu toko Karin membeli 3 baju dan 2 rok harganya Rp 210.000,- Di toko itu Lia membeli 2 baju dan 3 rok dari bahan yang sama harganya Rp 190.000,- Sita membeli 2 baju dan 2 rok dari bahan yang sama. Berapa harga yang harus dibayar oleh Sita? (model soal problem solving)

3x + 2y = 210.000
2x + 3y = 190.000
Hitunglah 2x + 2y = .. (bukan model soal problem solving)


2.       Menarik untuk menemukan solusinya
Soal problem solving  adalah soal yang menuntut siswa berfikir aktif dan kreatif, sehingga soal yang  biasa disajikan adalah soal-soal yang menarik, menantang dan menuntut kreativitas siswa dalam menemukan solusinya.

3.       Melibatkan ide matematika
Walaupun permasalahan yang diangkat adalah situasi kehidupan sehari-hari,namun dalam pemecahannya melibatkan ide matematika sebagai sebuah alat (tool).
Berikut ini gambaran umum atau langkah-langkah pemecahan masalah Polya:
1. Pemahaman pada masalah ( Identifikasi dari tujuan )
Pada langkah pertama, masalah harus dibaca dengan sebaik mungkin, dan yakinkan bahwa masalah sudah diyakini dan dipahami dengan benar. Untuk mengetahui bahwa masalah benar-benar sudah dipahami, tanyalah
diri anda dengan pertanayan :
  •  Apa yang tidak diketahui?
  •  Kuantitas apa yang diberikan pada soal?
  •  Kondisinya bagaimana?
  •  Apakah ada kekecualian?
Untuk beberapa masalah akan sangat berguna untuk membuat diagranmny dan mengidentifikasi kuantitas-kuantitas yang diketahui dan dibutuhkan pada diagram tersebut. Biasanya dibutuhkan membuat beberapa notasi ( x, a, b, c, V=volume, m=massa dsb ).

2. Membuat Rencana Pemecahan Masalah
Setelah memahami masalah, maka dilanjutkan dengan membuat rencana pemecahan masalah. Dalam tahap ini dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan yang cukup tentang subjek yang sedang dibicarakan. Carilah hubungan antara informasi yang diberikan dengan yang tidak diketahui yang memungkinkan anda untuk menghitung
variabel yang tidak diketahui. Jika anda tak melihat hubungan secara langsung, beberapa gagasan berikut ini mungkin akan menolong dalam membagi maslah ke sub masalah
  •  Membuat sub masalah
Pada masalah yang komplek, akan sangat berguna untuk membantu jika anda membaginya kedalam beberapa sub masalah,sehingga anda dapat membangunya untuk menyelesaikan masalah.
  •  Cobalah untuk mengenali sesuatu yang sudah dikenali.
Hubungkan masalah tersebut dengan hal yang sebelumnya sudah dikenali. Lihatlah pada hal yang tidak diketahui dan cobalah untuk mengingat masalah yang mirip atau memiliki prinsip yang sama.
  •  Cobalah untuk mengenali polanya.
Beberapa masalah dapat dipecahkan dengan cara mengenali polanya. Pola tersebut dapat berupa pola geometri atau pola aljabar. Jika anda melihat keteraturan atau pengulangan dalam soal, anda dapat menduga apa yang selanjutnya akan terjadi dari pola tersbut dan membuktikannya.
  •  Gunakan analogi
Cobalah untuk memikirkan analogi dari masalah tersebut, yaitu, masalah yang mirip, masalah yang berhubungan, yang lebih sederhana sehingga memberikan anda petunjuk yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah yang lebih sulit. Contoh, jika masalahnya ada pada ruang tiga dimensi,
cobalah untuk melihat masalah sejenis dalam bidang dua dimensi. Atau jika masalah terlalu umum, anda dapat mencobanya pada kasus khusus
  •  Masukan sesuatu yang baru
Mungkin suatu saat perlu untuk memasukan sesuatu yang baru, peralatan tambahan, untuk membuat hubungan
antara data dengan hal yang tidak diketahui.Contoh, diagram sangat bermanfaat dalam membuat suatu garis bantu.
  •  Buatlah kasus
Kadang-kadang kita harus memecah sebuah masalah kedalam beberapa kasus dan pecahkan setiap kasus terbut.
  •  Mulailah dari akhir ( Asumsikan Jawabannya )
Sangat berguna jika kita membuat pemisalan solusi masalah, tahap demi tahap mulai dari jawaban masalah sampai ke data yang diberikan
3.  Malaksanakan Rencana
Dalam melaksanakan rencana yang tertuang pada langkah kedua, kita harus memeriksa tiap langkah dalam rencana dan menuliskannya secara detail untuk memastikan bahwa tiap langkah sudah benar.
4.  Lihatlah kembali
Kritisi hasilnya. lihatlah kelemahan dari solusi yang didapatkan ( seperti : ketidak konsistenan atau ambiguitas atau langkah yang tidak benar )



Soal Problem Solving(1)
·         Geisha membeli 4 buah permen dan 2 buah donat di toko kue. Geisha membayar  di kasir dengan uang Rp20.000,00 dan mendapat kembalian Rp15.000,00. Tak lama kemudian, Justin mengunjungi toko yang sama untuk membeli 3 buah permen dan 4 buah donat seharga Rp7.500,00. Jika Shahnaz ingin membeli 5 buah permen dan 5 buah donat di toko yang sama, berapa rupiah kah yang harus dibayar Shahnaz ke kasir?